Meski Melambat, Perekonomian Banten Tumbuh Lebih Tinggi Dari Peringkat Nasional


SERANG, BANTEN – Perekonomian Provinsi Banten sejak 2012 hingga 2015, secara umum mengalami perlambatan seiring perlambatan ekonomi dunia dan ekonomi Indonesia. Perlambatan tersebut terlihat dari data pertumbuhan ekonomi Banten tahun 2012 dan 2013 yang lebih dari 6% yaitu berturut-turut 6,83% (yoy) dan 6,67% (yoy).

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Banten, Budiharto Setyawan mengatakan, pertumbuhan ekonomi Banten tahun 2014 dan 2015 lebih rendah, masing-masing 5,47% (yoy) dan 5,37% (yoy).

“Meskipun melambat perekonomian Banten periode 2012-2015, tapi mampu tumbuh lebih tinggi dari pertumbuhan nasional,” katanya saat Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2016 dengan tema ‘Mengoptimalkan Potensi Memperkuat Resilensi’ di Bidakara Hotel, Kota Serang, Kamis (1/12).

Berdasarkan lapangan usaha, lanjut dia, perekonomian Banten terutama di topang oleh tiga lapangan usaha yaitu industri pengolahan dengan pangsa sebesar 32,4%, perdagangan dengan pangsa 11,88%, serta transportasi dan pergudangan dengan pangsa 10,75%.

“Berdasarkan sisi penggunaan, perekonomian Banten ditopang oleh konsumsi rumah tangga dengan pangsa 52,5%, investasi dengan pangsa 28,9%, dan ekspor dengan pangsa 13,65%,” ujarnya.

Saat ini di tengah kondisi perekonomian global yang belum menguat, BI memperkirakan perekonomian Banten tahun 2016 akan tumbuh sekitar 5,2-5,5% (yoy), dengan bias ke bawah, sedikit lebih rendah dibandingkan tahun 2015 yang tumbuh 5,37% (yoy).  Meningkatnya pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten terutama ditopang oleh konsumsi, investasi dan ekspor.

“Karakteristik industri di Provinsi Banten yang mayoritas berorientasi ekspor namun dengan ketergantungan bahan baku impor yang cukup tinggi, menyebabkan ekonomi Banten sangat mudah terpapar oleh kondisi global,” katanya.

Kendati demikian, potensi ekonomi di Provinsi Banten masih dipandang positif dan terus meningkat terlihat dari peringkat investasi Provinsi Banten yang berada di urutan keempat secara nasional untuk penanaman modal asing (PMA) dan urutan ketiga untuk penanaman modal dalam negeri (PMDN).

“Membaiknya kinerja ekspor juga mendorong tumbuhnya industri pengolahan yang sebelumnya lebih banyak ditopang oleh permintaan domestik. Komitmen pemerintah dalam mendorong tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) pada proyek-proyek infrastruktur juga telah berdampak pada kinerja industri pengolahan di Provinsi Banten,” ungkapnya

 

Penulis Fauzan Ricky

RadarBanten.co.id/Jumat 2 Desember 2016


Jadwal Sholat


Prakiraan Cuaca


Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan